CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS

Kategori

Sabtu, 12 Desember 2009

Tumbuh sebagai Anak Jalanan, Menjadi Dewasa Bersama Islam

Awal hidupnya ia jalani dengan kekacauan, namun hatinya tidak pernah menolak kebenaran. Akhirnya ia pun menemui makna hidup bersama Islam

Namaku sekarang Abdullah Abdul-Malik, dilahirkan, dibesarkan, dan tinggal di Amerika Serikat. Usiaku 28 tahun. Aku sudah menjadi Muslim selama hampir 5 tahun.

Aku dibesarkan di sebuah lingkungan yang elok di Philadelphia, Pennsylvania. Aku suka bermain sepakbola di waktu kecil. Sebagaimana seorang remaja Amerika, aku senang mendengarkan musik rap dan menonton film-film yang penuh adegan kekerasan. Ketika itu aku yakin bahwa hidup memanglah seperti itu.

Aku menyangka apa yang aku lakukan ketika itu keren, dan memang gaya hidup seperti itulah yang harus dijalani, penuh gairah, dan berbahaya. Oleh sebab itu, aku menjadikan para rapper dan pemain film itu sebagai panutan, dan termakan keyakinan bahwa hidup itu harus menjadi seorang pembangkang terhadap lingkungan.

Sekarang aku tahu bahayanya musik dan televisi terhadap masyarakat kita. Jika kamu tidak memiliki panutan yang positif, maka kamu akan memiliki panutan yang negatif.

Aku terjerumus mengkonsumsi mariyuana, dan mulai menjualnya saat usia remaja. Aku menjalani hidup seperti itu selama masa sekolah menengah hingga kira-kira berusia 23 tahun.

Aku mulai merasa bahwa teman-temanku bukanlah teman yang sebenarnya. Aku menjadi paranoid, tidak tahu siapa yang bisa dipercaya. Jiwaku terasa hampa.

Akhirnya aku bermain dan membuat musik untuk menyalurkan tekanan perasaan yang terpendam di dada.

Hidupku menjadi kehilangan semangat dan terisolasi. Aku mencari-cari jati diri.

Keluargaku kemudian mengalami masalah keuangan, lalu mereka pindah ke Florida. Aku sendiri memutuskan untuk tetap tinggal di Pennsylvania, karena di sanalah aku dibesarkan. Baik atau buruk, Pennsylvania adalah rumah bagiku, dan aku belum siap meninggalkannya.

Aku pindah rumah, tinggal sendiri di sebuah apartemen yang dekat dengan tempat aku dibesarkan. Aku belajar untuk bertahan hidup. Ketika itu rasanya sangat sulit dan kesepian.

Kehidupanku semakin keras saja. Aku mulai berani mengambil kesempatan. Aku berhenti menjual narkoba secara sembunyi-sembunyi, mulai nekat, dan tidak takut apapun.

Aku tidak lagi hanya menjual narkoba kepada orang-orang yang kukenal, bahkan mulai menjualnya kepada orang yang tidak kukenal sama sekali. Aku mulai melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak akan pernah aku lakukan. Begitulah, jika kamu sudah terperosok dalam pada sesuatu, maka kamu akan semakin berani mengambil resiko, dan gaya hidup yang berbahaya sekali pun mulai dirasa nyaman dan bahkan dianggap normal.

Akhirnya akupun terjebak menjual mariyuana kepada seorang polisi yang menyamar pada tahun 2004. Aku kemudian menjalani pemeriksaan. Ketika itu aku merasa ada tekanan yang besar dari sekelilingku.

Aku takut jika harus hidup dalam penjara, karena itu aku berhenti menjual narkoba dan mulai mencari pekerjaan. Saat itulah aku bertemu dengan seorang pria Muslim berusia 50-an tahun. Di tempat bekerja itu aku mulai berbincang-bincang tentang Islam. Aku bertanya kepada orang tua itu, apakah Muslim percaya pada Yesus, karena selama ini yang aku tahu hanyalah Yesus.

Dia bilang, ya. Yesus adalah salah seorang yang mulia dalam pandangan agama, tapi kami mempercayainya sebagai seorang nabi, bukan Tuhan. Ia mengatakan kepadaku bahwa Muslim percaya kepada semua nabi, mulai dari Adam hingga Muhammad. Dan Tuhan itu Esa, tidak ada yang setara dengan-Nya dan menyamai-Nya.

Ketika ia menjelaskan hal itu, aku menerimanya, sepertinya aku sudah pernah merasakannya. Apa yang dikatakannya bisa diterima nalar. Jadi mana mungkin seseorang menolak pernyataan yang sangat kuat dan masuk akal seperti itu?

Oleh karena aku kelihatan tertarik, ia berkata akan memberiku sesuatu.

Saat itu aku merasa bahwa aku harus berubah, dan aku haus akan jawaban. Aku selalu percaya adanya Tuhan, tapi banyak hal yang membingungkanku, dan aku tidak bisa menerima Kristen sebagai sebuah keyakinan yang benar.

Satu malam setelah mengantar orang tua itu pulang kerja, ia memberiku sebuah Al-Qur’an. Kuucapkan terima kasih, dan malam itu pula aku mulai membacanya. Kitab itu seakan berbicara dan menjelaskan semuanya dengan jelas kepadaku. Aku yakin kitab itu benar, dan hanya Tuhan saja yang mampu membuat kitab seperti itu.

Sungguh sangat masuk akal bagiku, dan sekejap ada kedamaian yang kurasakan di dalam hati. Sesuatu yang sepertinya belum pernah aku rasakan.

Merenungkan Makna

Ketika aku berjumpa lagi dengan pak tua keesokan harinya, ia berkata bahwa aku kelihatan sangat jauh berbeda. Aku katakan padanya bahwa kitab itu membuat kita merasa baik, dan hal itu sangat menakjubkan.

Aku tahu bahwa aku senantiasa diawasi oleh polisi. Aku pikir, karena mereka tidak menangkapku, maka mungkin mereka membiarkan hingga aku melakukan sesuatu yang lebih buruk. Banyak detektif yang tidak ingin melakukan penangkapan kecil, biasanya ingin mendapatkan tangkapan yang besar.

Setelah beberapa bulan di bawah pengawasan, beberapa orang detektif tiba-bisa muncul di suatu tempat dan menyergapku. Aku ditahan dengan tuduhan menjual mariyuana dalam jumlah kecil.

Aku kehilangan pekerjaan, dan dipenjara selama beberapa hari sebelum akhirnya keluargaku yang berada di Florida membayar tebusan. Berita itu sungguh menyedihkan hati mereka, dan menimbulkan masalah besar kepada keluargaku.

Para detektif itu mengatakan, mereka tidak benar-benar menginginkan aku, mereka ingin agar aku menolong mereka menjebak orang lain. Tapi aku menampiknya dan memutuskan untuk menjadi lelaki sejati.

Setelah bebas dengan tebusan, aku terus membaca Al-Quran dan merenungkan secara mendalam makna yang dikandungnya.

Pada suatu malam, ketika aku membacanya dalam kegelapan, aku melihat seakan-akan ada cahaya yang memancar dari kitab itu. Aku yakin itu adalah tanda dari Tuhan bahwa kitab itu benar, dan bahwa hidupku akan segera berubah selamanya, dan aku mempunyai tujuan hidup.

Cahaya itu tidak memancar sekejap saja, tapi memancar selama aku membacanya–kurang lebih selama 45 menit. Aku berpikir untuk memberitahukan hal itu pada temanku yang tidur di lantai atas. Tapi aku merasa itu adalah tanda dari Tuhan untukku, dan aku tidak akan merusaknya.

Sebelumnya aku sudah percaya jika kitab itu benar, tetapi ketika aku melihat cahaya itu, keyakinanku berubah selamanya.

Pada akhirnya, aku pun harus masuk penjara. Di sana aku bertemu orang-orang Muslim, yang ternyata merupakan orang-orang terbaik yang pernah aku temui. Orang-orang yang sebenarnya tidak jahat, tetapi hanyalah orang-orang yang terperosok pada situasi yang menyudutkan dan mengambil keputusan yang keliru.

Aku jadi tahu karakter orang muslim: laki-laki kuat yang punya harga diri, rendah hati, penyayang, dan penuh ketaatan. Di dalam penjara itu aku belajar berpuasa, berdoa, shalat dan mengikuti shalat Jumat.

Aku melihat bahwa karakter seorang Muslim itu teguh memegang kebenaran dan tahu bagaimana menjadi pengikut setia Tuhannya. Mereka adalah orang-orang, yang meskipun dalam keadaan tertekan, selalu tabah atas apa yang menimpa diri mereka, tanpa rasa khawatir, dan percaya sepenuhnya kepada Sang Pencipta.

Hidupku seluruhnya diobati, dan jiwaku berubah. Penjara membantuku menjadi bijaksana, dan pikiranku menjadi terang untuk pertama kalinya. Di penjara kamu akan belajar menjadi orang yang berpikir, karena kamu tidak punya apapun kecuali waktu untuk berpikir, merenung. Kamu akan mempertanyakan segalanya, agamamu, keluargamu, teman-temanmu.

Di penjara, berarti kamu berada di tempat yang tidak banyak gangguannya. Sungguh itu sebuah anugerah bagiku.

Aku tahu bahwa aku tidak akan menyukai penjara, tapi aku yakin bahwa itu adalah yang terbaik bagiku.

Di sana kegiatanku hanya membaca, berolahraga, dan mengingat-ingat kembali apa yang telah aku lakukan selama ini, dan apa tujuan hidupku sebenarnya.

Aku menjalani masa kurungan hanya satu tahun lamanya. Setelah keluar, aku pindah ke Florida. Sejak itu aku tinggal di sana.

Aku merasa seperti dilahirkan kembali.

Sekarang, aku sedang mengikuti pendidikan keperawatan, dan berencana untuk keliling dunia membantu orang-orang yang tidak seberuntung aku. Sambil terus menyebarkan pesan agama kebenaran.

Jika kamu pernah melakukan kesalahan, lalu menemukan kebenaran, maka segalanya akan terasa semakin terlihat jelas. Menakjubkan, ketika pertama kali aku belajar hidup sebagai seorang dewasa. Kebenaran datang saat aku membutuhkannya, di saat yang tepat.

Hidupku sebelumnya sungguh kacau. Aku merasa sangat beruntung karena menemukan Islam sebagai jalan benar yang lurus. Jika kamu sudah menemukan agama ini, maka kamu tidak akan ingin kembali kepada keadaan seperti sebelumnya.

Aku pernah hidup di jalanan, kemudian tinggal di penjara, dan akhirnya hidup dalam Islam.

Akhirnya, aku merasakan apa yang telah aku jalani semuanya adalah berharga dan patut. Tanpa semua itu, aku tidak akan menjadi seperti sekarang ini. Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah! [di/ri/www.hidayatullah.com]

Permainan Palsu

Pernah suatu hari aku coba melakukan suatu hal yang seharusnya tak kulakukan. Ketika itu aku sedang ingin mendapatkan sesuatu yang lebih besar dari yang aku miliki saat itu. Sebenarnya sudah ada kata yang berbisik ditelingaku, "sebaiknya ini tak kau lakukan". Aku kemudian berargumentasi dengannya, "kenapa hal ini tak boleh aku lakukan?" Lantas kata di telingakupun menjawabnya pula, "bukankah pak ustad pernah bilang, bahwa sebuah permainan yang hanya mengandalkan untung-ungan itu tidak boleh dilakukan, haram...haram...itu sama dengan judi...haram...haram..." Diucapkannya kata itu berulangkali, sampai akhirnya aku menutup telinga tanda tak mau lagi aku mendengar tutur katanya.

Aku letakkan selembar uang ribuan di satu tanda, saat itu, uang seribuan sangatlah besar harganya, bisa untuk makan beberapa kali di warung pojokan alun-alun. Bahkan sambil minum es teh manis beberapa gelas pula. Tapi seibuan itu akhirnya kuletakkan juga di salah satu tanda, dengan hrapan aku akan mendaatkan enam kali seribuan, yang berarti enam ribu rupiah, begitu pikirku.

Sementara satu orang yang menguasai permainan itu, disebut bandar, masih menunggu orang lain untuk juga ikut bertaruh sama halnya sepertiku. Matanya menengok ke kanan dan kiri, sesekali wjaahnya mendongak kepada orang yang berharap-harap cemas. Matanya terkadang melotot, tak jarang pula, sesekali dia menghardik kepada orang yang ikut bertaruh. Padahal menurut nalarku dia tidak menghardik, tapi hanya memastikan, apakah benar orang yang bertaruh itu sudah meletakkan taruhannya di tanda yang dikehendaki atau masih ingin berubah pikiran. Itu saja nalarku. Tidak lebih dan tidak kurang.

Satu menit berlalu, dua menit menuju. Jantungku berdegup tak menentu. Rasanya sama seperti saat aku kena damprat orang tuaku saat aku terlambat pulang ke rumah setelah bermain seharian diluaran. Dag...Dig...Dug.... Rasa dadaku sesak bagai tertindih bongkahan batu sebesar kerbau. Wuuihh...

Tibalah saatnya bandar itu mengangkat tutup alat permainannya...mataku melotot dan nafasku tertahan di jakun.... Dapat...dapat...dapat...

Ternyata tanda yang keluar tidaklah sama dengan gambar taruhanku. Aku tertunduk lesu, menyesali selembar uang seribuan yang telah melayang berpindah tangan dengan mudahnya. Tidak dijambret, tidak pula dirampok, tidak juga dicopet. Hilang dengan mudahnya dihadapanku.

Kata-kata di telingaku kembali berbisik, kali ini lebih keras lagi, "bukankah sudah aku bilang jangan kau lakukan, itu sama dengan judi, dan judi itu dilarang oleh Allah sebagai perbuatan yang munkar...sekarang kau menyesal bukan?"
Aku tertegun mendengar kata-katanya. Tetapi setengah menit kemudian, aku merogoh sakuku dan kukeluarkan lagi uang seribuan dari dalamnya. Aku berkata dalam hati, "uang seribuan tadi harus kembali lagi kepadaku..." Kuhembuskan nafasku dengan kerasnya, sampai beberapa orang menoleh ke arahku. Ya, uang seribuanku harus kembali lebih banyak lagi. Kemudian kuletakkan uang seribuan ke tanda yang kuinginkan. Perasaanku bercampur antara soto dan rawon, es jeruk dan jus alpukat. Kutunggu beberapa menit dengan kadar keresahanku yang semakin meningkat.

Dua menit kemudian....
Aku memaki dengan keras.... Sontak beberapa orang menatap ke arahku dengan perasaan jengah. Aku memaki tak henti-henti dan kutinggalkan tempat itu dengan pandangan tertunduk lesu. Kugenggam kepalan tangan kiriku. Dan kuhentakkan pula tapak kakiku keras-keras di jalan setapak alun-alun yang temaram. Dengan gundah aku berlalu begitu saja, berjalan menuju arah timur, pulang.

Esok paginya, kebetulan aku lewat sekitaran alun-alun untuk menuju ketempat kerjaku. berjalan kaki saja dan kadang-kadang aku juga sempatkan untuk berhenti sambil menikmati segarnya udara pagi. Kudapati orang-orang yang tadi malam ada di sekitarku saat kupertaruhkan dua lembar uang seribuanku dengan harapan akan kudapatkan enam kalinya. Mereka tertawa-tawa dan kebetulan aku kenali salah satu diantaranya...bandar...yah bandar itu. Suaranya masih kuhafal walau tadi malam aku telah terbaring lesu ditekan penyesalan. Bandar itu berucap, "Orang-orang bodoh...dibohongi mau saja. Tidak mungkin mereka menang dalam permainan kita, mereka tidak tahu kalau kita curangi...." dan masih banyak lagi kata-kata yang membuat telingaku semakin memerah sakit setengah mati.

Ternyata mereka telah curang, orang-orang yagn berkerumun dan sesekali ikut bertaruh adalah kawan-kawannya juga. Aku adalah salah satu korban mereka. Korban dalam permainan palsu yang tanpa mengenal belas kasihan.

Akhirnya aku bisa mulai memahami, bahwa saat kita melakukan suatu perbuatan munkar, maka akan ada penyesalan yang tak terhingga. Semoga kelak kemunkaran ini tak pernah kulakukan lagi. Memang hanya 2 lembar uang seribuan, tapi saat itu bisa menghidupiku selama 10 hari lamanya dengan nasi bungkus di warung pojokan alun-alun.

Astaghfirullahhaladziim...

Kepemimpinan ‘Kritis’

Memimpin kelompok, organisasi, perusahaan, apalagi negara memang tidaklah gampang. Tapi, tidak pula susah. Disebut memimpin berarti ada yang dipimpin. Ada mitra kerja (atau bisa disebut bawahan) yang akan menggalang kebersamaan untuk mencapai tujuan yang telah disepakati.

Jabatan pemimpin adalah sebuah amanah. Apalagi jika yang dipimpinnya adalah organisasi dakwah yang punya cita-cita adiluhung, yakni berupaya melanjutkan kehidupan Islam. Insya Allah hal itu merupakan amal shaleh, tentu saja jika ikhlas melakukannya. Karena memimpin adalah amanah, maka seorang pemimpin tidak berhak menjadikan organisasi yang dipimpinnya sebagai hak milik pribadi, sehingga merasa perlu dan wajib (menurut ukuran diri sendiri) untuk memperlakukan organisasi tersebut sesuai kehendaknya, atau merasa berhak mengorbankan bawahan dengan berlindung atas nama penyelamatan organisasi.

Menjadi pemimpin bukan berarti antikritik. Bukan pula harus merasa benar sendiri. Sehingga anekdot dalam kepemimpinan akhirnya berlaku: 1). Pemimpin tak pernah salah. 2). Jika pemimpin bersalah, kembali kepada pernyataan pertama. Tentu ini sangat menggelikan dan sungguh merupakan kepemimpinan yang �kritis’ (baca: mengkhawatirkan).

Kepemimpinan yang baik memang bukan berarti tanpa cela. Sebagaimana halnya manusia yang bertakwa bukanlah yang selalu benar dalam menjalani kehidupannya, tapi manusia yang bertakwa adalah ketika ia berbuat salah, segera bertaubat. Itu artinya, pemimpin yang baik bukan berarti selalu benar, apalagi merasa benar sendiri. Maka, mendengarkan masukan dari bawahan, adalah hal yang sangat dianjurkan. Karena apa? Karena pemimpin tidak ma’sum. Masih ada celah untuk lupa, termasuk berbuat maksiat. Jadi, ada baiknya mendengarkan masukan, saran, bahkan mungkin juga keluhan dan harapan dari bawahan. Tak ada salahnya bukan?

Rasulullah saw. bersabda: “Ambillah hikmah yang kamu dengar dari siapa saja, sebab hikmah terkadang diucapkan bukan oleh orang yang bijak. Bukankah ada lemparan yang mengenai sasaran tanpa disengaja?� (HR al-Askari)

Imam Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah pernah berkata, “Man ahsanal istima’, ta’ajjalal intifa –Siapa yang paling baik mendengarkan, dia akan cepat mendapatkan manfaatâ€?. Beliau juga pernah mengingatkan kita untuk menyimak “isiâ€? pembicaraan dan bukan “siapaâ€? yang berbicara. “Perhatikanlah apa yang dikatakan, dan bukan siapa yang berkata!â€?

Jika sebagai pemimpin menginginkan ketaatan yang kritis (cerdas) dari bawahannya, bukan ketaatan yang �kritis’ (mengkhawatirkan), maka tentunya harus memberikan teladan yang baik kepada bawahan. Bagaimana pun juga, pemimpinlah yang seharusnya dan punya kewajiban memberikan teladan, karena seorang pemimpin lebih mungkin untuk didengar dan dipercayai. Lagi pula, bagaimana mungkin diangkat dan dipilih jadi pemimpin jika tidak bisa dijadikan teladan. Seseorang yang memimpin pasti umumnya lebih baik dari orang kebanyakan. Lebih baik semangatnya, lebih baik ilmunya, lebih baik kesabarannya, lebih baik segalanya.

Seorang pemimpin dikatakan telah gagal dan kepemimpinannya dikategorikan �kritis’ alias mengkhawatirkan adalah ketika seorang pemimpin tak mampu memimpin bawahannya. Bahkan lebih memilih bermusuhan dengan bawahannya yang berbeda sikap dan pendapat dengannya, ketimbang berusaha duduk bersama dan melakukan dengar-pendapat dengan bawahannya yang berseberangan itu. Siapa tahu bisa dicari jalan keluar yang terbaik. Sebab, kita bukan hanya ingin bersama, tapi juga bersatu. Kita juga tidak hanya ingin diangap bilangan, tapi juga diperhitungkan[O. Solihin]